Jumat, Januari 15, 2010

Percakapan yang panjang dan mendebarkan. ahahah. Sekarang sih, pas nulis udah gag begitu deg-degan lagi, gag kaya tadi.


I: “om, lita mau pinjem golok, kompas orientering, kompas bidik, protactor sama …….. Eh, yah, kita punya pisau lipat sama penggaris besi kan di rumah?”

A: “iya itu mah ada, yang gag ada aja minjemnya!”

I: “iya om itu aja berarti. Ehhehe”

U: “iya, bentar disiapin. Cik pang siapkeun ieu nu ditulis” minta tolong pegawainya.

A: “kumaha ben ayeuna?”

Si om bercerita panjang lebar sampai akhirnya banyak pertanyaan yang terlontar.

U: “dih, anak kamu teh ikutan *PA di *tempat kampus na? hebat euy!”

Tanda * (bintang) sensor ceritanya, kan gag boleh bilang merek. Ahhaha. Setelah denger pertanyaan si om, sumpah kaget, gag tahu harus bilang apa. Dilema. Kalau bilang gag, ntar minjemnya susah, kalau bilang iya tapi kan gag. Oke, iya. Ayah sih cuma senyum aja.


U: “om juga kan sering ke sana, tiga minggu yang lalu kalau gag salah om itu pasang tempat buat panjat tebing di *lapangan. Kemaren-kemaren anak *PA nya kesini beli buat seperangkat arung jeram sama panjat tebing. Ini di butuhin buat latihan dasar kan? Kapan?”

Oh my God. Gemeter. Pengen bisa ngalihin pembicaraan. Si om nunjukin piagam yang didapet dari himpunan yang sedang kita bicarakan. Uaah, si om beneran deket sama himpunan ini.

I: “iya om. Nanti tanggal 18 sekarang.”

U: “hari Rabu?”

I: “bukan om, hari Senin”

U: “ berapa lama? Seminggu apa sebulan?”

I: “dua minggu kayanya om, belum ada kepastian.”

U: “pasti ada kepastian atuh, nanti keluarga di rumah gimana? Iya, kan? Dimana tempat pelatihannya?”

I: “di gunung S***.”

U: “ooh, itu teh di …………………………………..” si om panjang lebar menjelaskan.

U: “berapa peserta yang ikut tahun ini?”

Bingung gila. Gag tahu pasti kan, cari aman.

I: “masih belum pasti om yang bisa ikut berapa orang.”

U: “iya kira-kira berapa? 20 ada?”

Ya ampun om, ampun, gag tahu. Udah cari aman juga, tetep aja ditanya detail.

I: “iya sekitar segituan.”

U: “cewe yang ikut banyak?”

Jawaban aman, sedikit, kan jarang tuh cewe ikutan pecinta alam.

I: “ sedikt om cewe yang ikutnya mah.”

U: “berapa orang? 3 ato lima gitu? Nyampe?”

Pertanyaan si om sangat banyak dan harus jelas, mungkin om nya seneng dan ngerasa familiar sama himpunannya, tapi om tolong, saya bingung jawabannya. aahhaha.

Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk .. banyak pertanyaan yang sangat mendasar mengenai himpunan itu, dan saya tak tahu. Dilanjut dengan, “kebanyakan orang mana yang ikut?”, “ketua himpunan yang sekarang namanya *ini bukan?”, “kemarin materinya udah sampai mana?”, “nanti kamu bakalan tahu arti bivoak (kalo gag salah itu istilahnya)", dan masih banyak pertanyaan lainnya, bla-bla-bla .. mati kutu.

U: “Apa yang buat kamu jadi pengen ikutan himpunan itu, lit?”

Jawabannya “soalnya kayanya asik aja ngeliat ayah jalan-jalan, manjat gunung gitu. Ehehheh”, muka udah gag karuan. Si ayah Cuma senyum-senyum aja terus. Cukup lah.

U: “wah, dih, ayeuna mah boga budak resep kitu oge, jadi teu bisa nyareknya? Pan urang ge baheula kitu. Ahahhaha”. Si om dan si ayah tertawa, saya gemeter-gila.

Gag banyak yang saya tahu tentang pecinta alam. Yang saya tahu tentang pecinta alam hanyalah sekelompk orang yang senang dengan alam (cinta lingkungan kali ya), berjalan-jalan di alam; naik gunung dan hal-hal yang dilakukan di alam terbuka (gunung), titik, itu aja. Materi dasar pecinta alam? Isinya apa? Bivoak atau b-b-b apa gitu awalannya dari b, itu apa coba? Gag tahu. Gila. Gag ngerti. Mati kutu.


Jujurnya sih, setelah ditanya alasan masuk himpunan itu, saya jadi inget cita-cita paling dulu yang pernah saya punya, salah satunya jadi pecinta alam, beneran pengen jadi pecinta alam. Ahahahha. Tapi sadar diri kok, fisik yang tidak memadai. Mulai dari kulit yang amat-sangat sensitif, kaki yang kalo kena dingin kram sampai linu tulang, ah ada-ada aja lah penyakit yang tidak mengijinkan saya buat ikutan kaya gituan, kecuali bareng ibu-ayah, kemping keluarga mah hayu. Ahahha.


Jadi inget masa lalu. Ahahha. Mungin kalo Cuma main-main aja sih bole, tapi kalo beneran ditinggal di hutan gitu sih, belum berani. Cita-cita pengen jadi pecinta alam kaya ayah adalah cita-cita jaman dulu sebelum sadar diri. ahhaaha


Satu hal lagi yang disadari dari percakapan panjang ini, ternyata *himpunan pecinta alam di kampus saya itu terkenal ya. ahaha.

Jumat, Desember 18, 2009

hanya sebuah kamar

Kamar saya hanya sebuah ruangan tidak berpintu berukuran 3x4 meter dengan hiasan berwarna ungu dan bergelantungan boneka monyet. Kamar saya sumpek karena diisi dengan banyak barang-barang. Ada computer, tape yang lumayan menyempitkan, meja besar untuk belajar, meja untuk simpen boneka-boneka kesayangan, tempat tidur, lemari yang umurnya lebih tua dari saya, dan dua kursi. Saya butuh sesuatu yang baru di kamar. Sumpek.


Akhir-akhir ini saya merasa tidak nyaman dengan kamar saya sendiri. Saya sudah tidak bisa lagi meluapkan semua emosi saya di kamar.


Kamar saya ini menjadi ruangan yang sudah tidak lagi bisa dibilang pribadi. Semua orang di rumah bisa lewat gitu aja Cuma buat menjemur pakaian. Apalagi sekarang, computer saya memang tidak canggih-canggih amat, tetapi karena sekarang sudah sering dipakai untuk kepentingan bersama, maka kamar saya lebih sering dikunjungi oleh orang-orang yang ada di rumah.


Untuk meluapkan emosi, sudah tidak bisa. Saya cengeng, sering rasanya saya ingin menangis, tetapi sekarang tidak lagi bisa dilakukan di kamar. Saya sering merasa ingin berdiam diri di kamar. Hal yang paling saya sering lakukan apabila sedang berada di kamar dan saya merasa emosi saya tidak baik, saya akan shalat dan mengeluh kepada-Nya hingga meneteskan air mata. Sekarang sudah tidak pernah saya lakukan lagi. Untuk menenangkan perasaan saya sendiri, saya tidak tahu, tidak ada tempat lagi. Saya pernah bercita-cita pergi keluar rumah sedirian tengah malam hanya untuk meluapkan kekesalan, tetapi tidak pernah bisa, karena tidak pernah mendapatkan izin. Kamarlah satu-satunya pilihan saya waktu itu, sekarang entahlah.


Saya suka keramaian, tetapi ada saatnya juga saya butuh untuk sendirian. Saya butuh kamar. Kamar adalah satu-satunya tempat yang bisa saya gunakan untuk beristirahat, tetapi sekarang, sirna. Hanya untuk beristirahat pada saat pulang kuliah saja, saya harus menumpang di kamar ibu untuk dapat bersandar dan meluruskan kaki. Kamar hanyalah tempat dimana ada kasur dan bantal yang sering saya pakai, itu saja.


Untuk mengerjakan tugas-tugas, sudah tidak nayaman lagi. Saya termasuk orang yang tidak suka apabila saya mau belajar dan tempat yang akan saya gunakan itu berantakan karena orang lain, saya menjadi kesal sendiri karena harus merapihkan apa yang seharusnya tidak saya lakukan pada saat itu.


Saya butuh kamar pribadi saya kembali berfungsi.

Kamis, Desember 17, 2009

Jawaban atas Pertanyaan

Ada rasa yang amat menusuk dan tidak bisa dipercaya, kebohongan dan ketulusan yang semu. Mungkin itu lah yang terbaik. Sakit memang, tapi itulah yang terbaik yang harus saya dapatkan.

Pernah saya bertanya, kenapa semua ini harus terjadi pada saya? Kenapa harus saya? Kenapa bukan orang lain yang mengalami apa yang saya rasakan? Apa saya bisa mengatasinya? Kenapa harus seperti ini masalah yang saya hadapi? Kenapa-kenapa-kenapa dan kenapa? Pertanyaan serupa itu selalu ada dibenak saya. Dan jawabannya adalah bersyukur.

Bersyukurlah karena masih diberi kenikmatan, diberi rasa bahagia, diberi rasa nyaman dan rasa aman. Semua ini tidak datang dengan sia-sia, pasti akan ada hasil yang bermanfaat di balik semua yang di dapat.

Mendapatkan suatu pengalaman yang lebih dibanding orang lain, maka bersyukurlah, karena kita mendapatkan sesuatu yang lebih. Belum tentu orang lain pernah merasakan apa yang kita rasakan, maka bersyukurlah. Belum tentu orang lain dapat mengatasi apa yang pernah menjadi masalah kita, maka bersyukurlah.

Semoga semua ini bisa diambil hikmahnya.